Tampilkan postingan dengan label Media Pem. Audio. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Pem. Audio. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Desember 2011

Pengertian Media Komunikasi dan Audio-Visual

.Tahun 1970 ditemukan teknologi CCD (Charged Caupled Device) menggantikan tabung citra vidicon. Tidak ada yang meramalkan bahwa di kemudian hari temuan Boyle dan Smith tersebut akan menjadi tonggak yang mempercepat perkembangan teknologi penangkap gambar diam maupun gambar gerak. Kamera foto dan kamera video berkembang sangat pesat berkat penemuan tersebut. Akhirnya hanya tinggal teknik lensa saja yang hampir tidak berubah. Media penyimpan mengalami perkembangan dan melahirkan banyak varian, di antaranya dalam bentuk pita (cassete), cakram (disk), dan memori chip. Dengan demikian sinematografi tidak lagi identik dengan media penyimpan fim/selluloid. Masyarakat mulai risih menyebut gambar hasil tangkapan dengan teknik sinematografi sebagai film karena media penyimpannya memang bukan lagi film. Lalu, apa nama pengganti yang sesuai? Muncullah istilah media audio-visual. CCD yang jauh lebih murah dibanding tabung citra vidicon juga menyebabkan harga kamera menjadi murah, dengan demikian penyebarannya menjadi lebih pesat. Memasyarakatnya kamera video menyebabkan semakin banyaknya objek yang bias dikemas menjadi tayangan video. Dulu hanya film dalam arti film cerita saja yang merupakan karya sinematografi, sekarang berbagai dokumentasi dapat dikemas menjadi tayangan video, dan semua itu memerlukan teknik sinematografi. Fenomena ini mengokohkan penggunaan istilah media audio-visual untuk karya-karya sinematografi.

Pengertian Media Komunikasi dan Audio-Visual
Media berarti wadah atau sarana. Dalam bidang komunikasi, istilah media yang sering kita sebut sebenarnya adalah penyebutan singkat dari media komunikasi. Media komunikasi sangat berperan dalam mempengaruhi perubahan masyarakat. Televisi dan radio adalah contoh media yang paling sukses menjadi pendorong perubahan. Audio-visual juga dapat menjadi media komunikasi. Penyebutan audio-visual sebenarnya mengacu pada indra yang menjadi sasaran dari media tersebut. Media audio-visual mengandalkan pendengaran dan penglihatan dari khalayak sasaran (penonton). Produk audio-visual dapat menjadi media dokumentasi dan dapat juga menjadi media komunikasi. Sebagai media dokumentasi tujuan yang lebih utama adalah mendapatkan fakta dari suatu peristiwa. Sedangkan sebagai media komunikasi, sebuah produk audio-visual melibatkan lebih banyak elemen media dan lebih membutuhkan perencanaan agar dapat mengkomunikasikan sesuatu. Film cerita, iklan, media pembelajaran adalah contoh media audio-visual yang lebih menonjolkan fungsi komunikasi. Media dokumentasi sering menjadi salah satu elemen dari media komunikasi. Karena melibatkan banyak elemen media, maka produk audio-visual yang diperuntukkan sebagai media komunikasi kini sering disebut sebagai multimedia.
Stop Dreaming Start Action
Pada masyarakat yang masih terbelakang (belum berbudaya baca-tulis) elemenelemen multimedia tidak seluruhnya secara optimal menunjang komunikasi. Masyarakat terbelakang hanya mengenal gambar dan suara. Pada masyarakat modern seluruh elemen multimedia menjadi sangat vital dalam membangun kesatuan dan memperkaya informasi. Suara, teks, gambar statis, animasi dan video harus diperhitungkan sedemikian rupa penampilannya, sehingga dapat menyajikan informasi yang sesuai dengan ciri khas masyarakat modern yakni efektif dan efisien. Untuk kepentingan efektifitas dan efisiensi inilah kemudian muncul istilah multimedia yang bersifat infotainment (informatif sekaligus menghibur) dan multilayer (beberapa lapis tampil pada saat yang sama). Saat menyaksikan tayangan TV masyarakat telah terbiasa melihat sinetron sambil mencermati tambahan berita dalam bentuk teks yang bergerak di bagian bawah layar TV, dan sesekali melirik logo perusahaan TV di pojok atas.

Pengembangan media pembelajaran audio/radio

Perubahan dan perkembangan di beberapa bidang dalam kehidupan selalu terjadi dari masa ke masa, terutama dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat perlu diimbangi dengan pembaharuan dibidang-bidang lain termasuk dalam bidang Pendidikan. Selain itu, Anderson, ( dalam Munadi 2008:65) mencoba menghubungkan program audio dengan tujuan pembelajaran kognitif, psikomotorik dan afektif. Untuk tujuan kognitif, audio dapat digunakan untuk mengajar pengenalan kembali atau pembedaan rangsang audio yang relevan, contohnya : 1) memperdengarkan suara-suara tanda bahaya tertentu atau alat-alat lain sehingga siswa dapat mengambil tindakan tertentu. 2) mengajarkan pengenalan kembali dialek dan istilah yang berhubungan dengan pekerjaan atau untuk memperdengarkan suara lapangan disertai suara latar belakangnya. 3) memberikan latihan pendengaran, untuk belajar mengingat dan mengucapkan kata-kata.

Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan produk media audio/radio pembelajaran khusus untuk pembelajaran Bahasa Indonesia pokok materi drama kelas VIII di SMPN 4 Probolinggo berupa CD pembelajaran.

Metode pengembangan yang diambil oleh penulis adalah metode R&D, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada agar dapat diuji keefektifannya serta dapat dipertanggungjawabkan.



Hasil pengembangan diperoleh dari 3 ahli media, 2 ahli materi, uji coba kelompok kecil berjumlah 5 orang siswa, kelompok klasikal berjumlah 15 orang siswa, serta uji coba individu berjumlah 3 orang siswa. Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan terhadap ahli media diperoleh rata-rata 75%, ahli materi rata-rata 73%, siswa/audiens perorangan74.4%, siswa/audiens kelompok kecil 70% yang dapat diinterpretasikan dalam kriteria valid, sedangkan siswa/audiens kelompok klasikal diperoleh rata-rata 83% dapat diinterpretasikan dalam kriteria sangat valid. Hasil belajar siswa individu mendapat peningkatan rata-rata 72.5%, kelompok kecil rata-rata 73.5% dan kelompok klasikal diperoleh rata-rata 70%.

Untuk mendapatkan penelitian yang lebih akurat, disarankan untuk meneliti dan membandingkan beberapa media yang dikenal selama ini, sehingga guru dapat memilih media pembelajaran yang tepat sehingga dapat meningkatkan hasil belajar selain itu, Waktu yang disediakan harus cukup, pemilihan karakter suara harus sesuai dan tepat, lebih menguasai program pembuatan media audio/radio, persiapan saat pembuatan dan penelitian harus maksimal serta saat pemutaran media harus fokus.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls